Pages

Tampilkan postingan dengan label Random Tought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random Tought. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

Sebuah Pencapaian


Kali ini saya benar-benar merasa melewatkan banyak hal, terutama waktu saya ingin mengatakan bahwa saya bersyukur. Nggak terasa tiba-tiba sudah di bulan terakhir, yang artinya sudah saatnya tutup buku dan membuka lembar baru di tahun 2020 (nyatanya postingan ini telah dibuat di bulan desember, yaaa namun di terbitkan akhir januari). Padahal baru saja saya buka draft postingan blog, dan menemukan draft postingan yang sejatinya akan saya post di awal tahun 2019. Ternyata se-mager itu saya untuk melanjutkan sebuah tulisan yang sudah saya susun dengan rapi, padahal setelah saya baca ulang, yaaa ngga buruk-buruk amat tulisannya, layak baca lah begitu kiranya. Seperti yang sudah-sudah, saya akan berharap di tahun berikutnya saya akan lebih produktif untuk menulis. Karena menyimpan sesuatu tanpa punya wadah untuk menyampaikan rasanya kaya kentut yang ditahan bertahun-tahun, sakit! Sebagai pertimbangan juga, daripada nantinya hanya akan menjadi bom waktu dan habis masanya alias basi.

Kalau ditahun-tahun sebelumnya, tiap akhir tahun atau awal tahun saya akan menulis harapan-harapan saya dan merefleksi hal-hal buruk apa saja yang nggak seharusnya saya lakukan, kali ini saya ingin sesuatu yang berbeda. Pokoknya mau bersyukur banyak-banyak. Mau mengapresiasi diri sendiri banyak-banyak. Saya ingin berterima kasih dengan diri saya sendiri. Karena 2019 adalah tahun yang berat, penuh perjuangan, air mata dan segala macamnya, dan karena saya tahu, tahun depan akan lebih berat dari tahun kemarin, sudah saatnya saya apresiasi diri ini.
"Dear diri sendiri, terima kasih sudah berjuang untuk hal yang kadang tidak sesuai inginmu. Terima kasih sudah berusaha dengan begitu keras hingga mengabaikan apa-apa yang membuatmu jatuh.Terima kasih sudah bersusah payah bersabar akan banyak hal yang banyak menguras emosi . Terima kasih untuk selalu berusaha bertahan atas hal yang mungkin saja tidak mendapatkan tempat di hatimu. Dan terakhir, terima kasih untuk senantiasa berdiri walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan ambisimu. You doing a great job :)"
Tahun 2019 adalah tahun dimana banyak pencapaian yang bahkan di tahun sebelum-sebelumnya tidak pernah berpikir untuk bisa melakukannya. Mulai dari melanjutkan studi sampai kuliah sambil kerja. What a wonderful journey. Singkat cerita, sebenarnya saya mulai lanjut kuliah di tahun 2018, tapi kenapa saya bilang tahun 2019 adalah tahun yang berat? Karena di tahun tersebut saya diuji dengan berbagai macam tugas beserta cobaan-cobaanya. Mulai dari  temen sekelompok yang tidak bisa kooperatif, dosen yang tidak mau tahu asal tugas kelar, sampai cobaan terancam ngga  lulus 2 mata kuliah sekaligus. Tapi seperti kata quote "This too shall pass", ya saya berhasil melewatinya. Meskipun dibumbui drama dan air mata, yaaa yang penting udah lewat iya kan? Ngga cuma drama, dibarengin juga sakit  yang nggak sebentar, harus rela absen satu minggu dan dapet warning dari dokter, membuat saya menyerah dan hanpir ambil cuti karena ngga sanggup!

Tapi ngga taunya Allah tuh memang Maha baik banget, banget, banget. Pernah ngga sih, kita cuma berangan-angan, ngga serius, tapi tiba-tiba sama Allah diwujudtin, bahkan ngga selang beberapa hari! Kadang bikin suka malu, malu, malu banget. Segitunya Allah ke kamu Nim, tapi kamu disuruh sholat wajib tepat waktu aja sering banget ngulur-ngulur waktu. Cuma diingetin buat ngaji minimal dua kali sehari aja suka protes. Diingetin buat sholat sunnah aja suka kesel. How bad.

Banyak banget, kalo flashback ke belakang, tentang kemudahan-kemudahan yang Allah kasih, tapi malah kurang bersyukur. Menganggap hal ini tidak sesuai keinginan, padahal itu yang paling dibutuhin. Oleh sebab itu di tahun yang baru ini, daripada menyesali bahwa apa yang sudah terlewatkan di tahun sebelumnya mari bersyukur dan pencapaian apa saja yang sudah diraih, dan berharap tahun depan ada pencapaian-pencapaian lain yang lebih, yang sebelumnya terbesitpun tidak pernah. Aamiin.

Jadi apa saja pencapaian di tahun kemarin? Mulai dari.... ternyata saya bisa juga ya bekerja under pressure. Ternyata saya bisa kok nyelesein tugas kelompok untuk membuat jurnal ilmiah dan resume buku seorang diri! Kenapa saya ngerjain sendiri? Tentunya ada segelintir orang yang kurang mengerti apa itu artinya sebuah tanggung jawab, dan lebih lanjut saya tidak ingin membahasnya lagi. Sudah cukup menjadi sebuah pembelajaran bagi saya. Menyebalkan memang, ahsudahlah sudah lewat, Alhamdulillah.

Selanjutnya, pencapaian yang sebelumnya saya ngga pernah mikir kalau ternyata saya bisa ngelakuin itu juga. Kuliah sambil kerja! Pengalaman baru bagi saya, karena bekerja di sebuah instansi pemerintah dengan gaji yang sangat-sangat proper. Meskipun itu hanya 2 bulan, tapi sungguh sangat menyenangkan. Meskipun harus bolak-balik Malang-Tulungagung yang yaaa ngga bisa dibilang dekat juga. Lalu mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang alhamdulillah lagi-lagi bisa di handle meskipun banyak dramanya, banyak ngeluh ngga sanggupnya. But finally I did it! Bertemu orang-orang baru,belajar tentang gimana sih realita lingkungan kantor, belajar betapa pentingnya waktu, dan tentunya merasakan bolak-balik, hectic, lelahnya naik kereta bahkan seminggu pernah sampe 6 kali! Dulu yang selalu mengidam-idamkan rasanya kerja kantoran dengan mobilitas kereta seperti di Jepang, akhirnya merasakan juga. Padahal itu dulu cuma mimpi, sungguh. Memang Allah Maha Baik, bahkan mimpi  buat ngerasain itu ngga pernah saya memintanya dengan sungguh-sungguh, atau yang saya doain tiap harinya, tapi di kabul sama Yang Kuasa *mulai sedih.

Lalu pencapaian-pencapaian lainnya yang mungkin ngga penting untuk disebutkan, jadi berani megang kucing misalnya. Hahahaha. Jadi harapan saya kalau ditanya, banyak. Keinginan saya yang ingin saya doakan juga banyak. Tapi daripada sibuk menghitung apa yang saya inginkan, di tahun 2020 ini saya ingin fokus untuk selalu bersyukur apa yang sudah terjadi di hidup saya, bahkan hal terkecil sekalipun. Karena terkadang tanpa saya sadari harapan saya seringkali sudah diwujudkan olehNya bahkan sebelum saya bisa menyadari itu. Semoga saya selalu bisa menjadi seperti itu, bersyukur bahkan untuk mata yang terbuka lagi disetiap paginya, oksigen yang masih bisa saya hirup tanpa susah payah dan gratis, dan semua yang ada di tubuh ini yang masih berfungsi seperti saat pertama saya melihat dunia. Atau bahkan sakit yang dikasih ke saya, dan sembuh yang kemudian juga dikasih sama saya, saya mau bersyukur akan semua itu. Bahkan sudah dikasih ngerasain patah hati untuk kesekian kalinya! Jadi, apakah merasakan kembali patah hati sebuah pencapaian juga? :)

Jumat, 08 November 2019

Depresi

Sampai hari ini, hampir di seluruh media sosial sedang gencar membahas tentang depresi.
Ditambah lagi munculnya film Joker yang berlatar belakang seseorang yang menjadi jahat karena sering mendapatkan perlakuan yang kurang baik, sampai fenomena bunuh dirinya artis Korea yang dipicu karena depresi yang tidak kunjung mereda sampai akhirnya menyerah dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Saya adalah salah satu orang yang selalu menentang huru-hara depresi ini. Saya juga yang selalu menggembar-gemborkan kalau depresi itu jangan dikasih makan, lawan. Saya juga juga yang selalu bilang sebenernya depresi itu cuma soal mindset. Kalau rasa depresi muncul secara tiba-tiba, jangan diladeni, jangan dikasih ruang. Coba pikirkan hal-hal yang membuat bahagia, pokoknya jangan tambah larut dalam kesedihan itu, agar depresi tidak semakin menjadi.

Tapi ternyata, tidak semudah itu ketika kita benar-benar merasakan depresi itu datang menimpa diri kita sendiri. Ya, I feel it, dan ya, benar. Rasanya melelahkan, membuat nafsu makan hilang, berat badan turun, tidak ingin melakukan apa-apa, rasanya hanya ingin diam dan merenung. Tidak punya daya upaya. Jangankan untuk beraktifitas, untuk sekedar bercerita saja rasanya tak sanggup. Apalagi ketika sendiri, ketika berada di dalam sebuah ruangan seorang diri, tanpa siapapun. Rasanya akan semakin menjadi. Serasa tidak ada yang peduli, serasa tidak berguna lagi, dan  ya, rasa untuk mengakhiri hidup itu silih berganti meneriakkan agar kita melakukan itu. Seberat itu memang rasanya. Tidak salah.

Sekarang, saya benar-benar mengerti kenapa depresi itu memang sangat berbahaya. Dulu saya selalu berpikiran "Kenapa sih sampe bunuh diri? Ngga mikir apa kalo itu dosa? Ngga mikir apa itu rasanya sakit? Kok bisa sih?". Tapi sekarang saya tahu rasanya. Saya tahu itu berat rasanya. Untuk orang-orang di luaran sana yang sedang berjuang melawan depresi, kalian kuat, kalian bisa melalui ini, jangan sampai kalah dengan depresi :)

Minggu, 07 Januari 2018

Menikah?

Kapan nikah? Sudah ada calonnya belum? Target nikah umur berapa?
Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan ini ajaib menurut saya. Ajaib? Iya ini pertanyaan ajaib. Hidup itu memang penuh pertanyaan-pertanyaan ajaib ya? Misalnya aja kalo lagi kuliah, pasti ditanyain kapan lulus? Even kalian masih semester awal-awal, yang ya ampun baru juga ngerasaain dunia perkuliahan udah disuruh lulus aja. Lalu ketika sudah sarjana, udah kerja dimana? Nah ini pertanyaan intimidatif sekali. 

Dua pertanyaan tadi masalah kapan lulus dan udah kerja atau belum, menurut saya masih oke ya, nah ini pertanyaan ajaib yaitu kapan nikah? Kalau dipikir-pikir 2 pertanyaan sebelumnya sih itu tergantung effort orang ya, dia bisa lulus cepet kalo dia memaksimalkan usahanya. Begitupun dengan udah kerja atau belom? Tinggal seberapa keraskah mentalmu untuk ditempa, ditolak perusahaan ini itu, tapi tetep nggak mau nyerah tetep berdiri, dan naruh surat lamaran kesana kemari, sampai dapet pekerjaan, iya nggak? Tapi kalo soal menikah lain cerita. Kok bisa?

Bagi saya, menikah itu nggak bisa ah laki-laki ini baik, ah laki-laki ini cakep, ah laki-laki ini alim, laki-laki ini mapan. Bener-bener nggak bisa. Menikah itu bukan sekedar hubungan antara 2 anak manusia, lebih dari itu menikah adalah menikahkan 2 keluarga yang sudah barang tentu berbeda dari segi suku, keluarga, kebiasaan-kebiasaan, sikap, bahkan mungkin agama, dan ini nggak bisa sesimple orang nanya kapan nikah? Dari semua perbedaan tersebut, menyatukannya gimana? Ya sulit, butuh proses. Menemukan seseorang yang bisa menerima kita juga itu sulit, dan sebaliknya. Menerima kekurangan satu sama lain, kemudian memaklumi, itu juga bukan perkara yang mudah. Apalagi berharap menemukan yang sempurna seperti harapan kita. Bisa hampir dipastikan mustahil.

Rabu, 08 November 2017

People Nowadays

Postingan ini mungkin sedikit nyambung sama postingan Manusia Purba (Re: Unopen-minded person). Postingan ini sebagai bentuk keresahan yang muncul lagi akibat ketidak nyamanan gue sama lingkungan yang sering dibilang kids jaman now. Jujur ungkapan kids jaman now ini nggak enak banget dikuping. Selain itu juga makna dibalik ungkapan itu, yang menurut gue agak sedikit negatif. Bagaimana tidak? Ungkapan itu seringkali dihubung-hubungkan dengan gaya pacaran anak muda jaman sekarang dimana bisa dibilang seringkali kelewat batas, atau anak-anak kecil yang sudah addicted banget sama gadget, atau juga kadang dihubungkan dengan lingkungan social media sekarang, dimana ajang kebebasan berpendapat digunakan sebagai kedok untuk nyinyirin manusia lain.

Oke, kids jaman now. Ada apa dengan kids jaman now? Pengguna instgram pasti udah sering banget kan nemuin postingan-postingan di eksplore atau akun-akun yang mengatas namakan akun kocak dengan tujuan memposting video atau gambar-gambar lucu? Ya, bukan sekali dua kali aja postingan yang diupload itu tentang anak kecil atau bisa dibilang ABG yang nyatain cinta, bawa bunga, terus si cowok berlutut gitu dihadapan si cewek, nah adegan selanjutnya adalah mereka berdua pelukan, terus audience di tempat kejadian nyorakin sambil nyanyi-nyanyi bahkan tepuk tangan. Parahnya jelas-jelas mereka masih pake seragam putih biru (re: anak SMP) Ya Allah, punya KTP aja belum, uda begini aja?

Senin, 25 September 2017

Soal Mimpi, Cita-cita, dan Harapan

Setiap orang pasti punya mimpi kan? Entah mimpi itu kecil atau besar, sepele atau mampu mengubah dunia. Banyak orang memandang mimpi dengan sudut pandang yang berbeda-beda, mari kita buat simple sudut pandang itu menjadi 3 bagian. Ada orang yang akan membangun mimpinya dengan sekuat tenaga, mengusahan dengan sangat keras, tidak akan membiarkan mimpi kecewa, jatuh, bangun tak pernah jadi masalah. Sebagian yang lain mungkin akan menyimpan mimpinya, ia berusaha, namun tidak pernah se-menggebu orang pertama, andaikan mimpi itu tidak pernah terwujud, ia tidak akan pernah kecewa. Ia menerimanya dan melanjutkan hidup. Sedikit lainnya mungkin akan mengubur mimpinya, berhenti memikirkannya, menyalahkan keterbatasan, kecewa mungkin iya, tapi pada akhirnya merelakan.

Itu hanyalah sebagian besar interpretasi soal mimpi, tapi di luar sana pasti ada begitu banyak keadaan, alasan, keterbatasan, tuntutan, yang menjadikan sebuah mimpi itu patut untuk diperjuangkan dan dikejar, disimpan dan dicoba, atau dikubur dan direlakan.

Mengejar mimpi sampai akhir hayat, samapai liang lahat, siapa yang tak ingin? Mengusahakan dengan sepenuh hati? Tapi menjadi seorang Mabuchi Kou sangat sulit (anime Ao Haru Ride). Kenapa? Ia mengejar mimpinya, dengan sangat keras, belajar dengan sangat tekun, berharap akan hidup dengan layak, dihujani kekayaan materi, dan berharap ibunya akan senang dengan hujan itu. Berkali-kalipun sang ibu berkata membahagiakannya adalah sesederhana makan dan nonton TV berdua, Kou kecil tidak pernah berpikir sesederhana itu. Sampai akhirnya sang ibu pergi untuk selama-lamanya, bahwa waktu yang semakin sedikit kemarin tak pernah ia gunakan untuk menemani sisa hidup ibunya. Penyesalan yang tertinggal.

Minggu, 27 Agustus 2017

Manusia Purba (Re: Unopen minded person)

Ini adalah pemikiran, yang sebenarnya ada di dalam otak gue sejak bertahun-tahun yang lalu, dan pemikiran ini rasa-rasanya pengen banget gue utarakan langsung kepada setiap orang yang suka menghentikan langkah seorang pemimpi hanya dengan mulut pedas level 100 nya.

Ada yang pernah berpikir bahwa lingkungan 100% akan membentuk diri? Atau ada yang berpikir bahwa lingkungan adalah bagian dari diri? Cermin diri?

Semakin lo bergaul dengan lingkungan yang 'baik', maka sedikit banyak lo akan menjadi baik pula. Sebaliknya, semakin lo bergaul dengan lingkungan yang 'nggak baik', maka sedikit banyak lo akan terkena imbasnya pula. Mungkin teori ini akan dibantah oleh beberapa orang, tapi setidaknya ini adalah apa yang gue lihat dan gue rasakan selama ini.

Kenapa di atas gue sebut orang yang menghentikan langkah seorang pemimpi dengan mulut pedas level 100 nya? Ya, karena mulut adalah pedang, yang tajamnya melebihi pedang, yang kadang hanya dengan perkataan aja, seseorang meninggalkan mimpinya.

Ada banyak contoh yang mungkin akan kita temui berdasarkan apa yang gue omongin di atas. Nggak perlu jauh-jauh, disekitar kita aja. Misalnya nih ya, pernah ngerasa annoying ngga sama temen lo yang suka nyinyir? Bahkan nyinyirin soal yang jelas-jelas itu adalah hal positif. Jadi gini, ada beberapa orang yang suka nge-bully gara-gara lo suka nge-upgrade kemampuan bahasa Inggris. Nah upgrade nya ini dengan cara lo speaking english entah secara langsung, nggak sengaja nyeletuk, atau ketika berada di sosial media. Dan tiba-tiba temen lo bilang "Udahlah nggak usah sok KEMENGGRES" cuma gara-gara lo speak english fluently. Jadi kita dikata-katain sok pake bahasa inggris gitu. Ya Allah, ini benar-benar. Benar-benar banget. Emang salah ya kalo kita berusaha upgrade vocab, atau coversation kita? Ini gue yang kolot apa mereka aja yang mental cupu nggak pengen maju?

Rasa-rasanya gue pengen tuh nyeramahin mereka soal panjang lebar. Ya terserah sih mereka boleh nggak suka sama kita yang emang pengen kemampuan bahasa inggrisnya meningkat, tapi ya jangan bikin orang lain yang pengen upgrade, jadi ciut dong nyalinya gara-gara mulut pedes level 100 itu! Harusnya mereka sadar, semakin kesini tantangan globalisasi itu semakin tinggi. Nggak bisa dipungkiri, kalau kita nggak menguasai bahasa internasional, kita akan semakin menjadi bangsa yang tertinggal. Mana koar-koar kalian yang suka ngomong ingin memajukan Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Ayo dong jangan jadi pecundang yang jago berisik, tapi nol aksi. Gimana cara kalian memajukan bangsa kalo ngomong sama dunia luar aja kalian nggak bisa? Bukannya ini lucu?

Jadi bisa dong ya kurang-kuangin nyinyirin orang yang suka ngomong bahasa inggris, mereka bukannya sok mau bergaya.  Tapi ini semua emang sudah jadi kebutuhan. Karena apa? Para pelamar kerja aja sekarang sering diminta sertifikat TOEFL.  Ya mungkin ada yang nggak, tapi ini sebagian besar perusahaan udah menjadikan ini sebagai kemampuan dasar calon pelamar. Jadi jangan lo anggep sepele masalah-masalah kecil ini. Bisa bahasa inggris ini udah jadi salah satu hal penting.
Mari jadi bangsa hebat yang berpikiran maju. Jangan jadi pecundang yang jago berisik, tapi nol aksi.



Minggu, 07 Mei 2017

Ngomongin Hal Penting: Politik

Jadi tulisan kali ini secara mengejutkan gue bakalan ngomongin soal politik. Secara tidak langsung ini adalah postingan pertama gue tentang politik, dan kenapa bahasanya jadi tidak aku dan kamu lagi, karena gue rasa ditulisan ini gue akan sedikit menjadi tokoh antagonis seperti apa yang gue lakuin di keseharian gue. Dan mungkin akan agak sedikit nyeplos aka nyablak.

Dulu pas SMA, menurut gue adalah masa transisi dimana temen-temen gue udah mulai ngomongin soal politik. Tentang kebijakan presiden yang seharusnya nggak ngelakuin ini lah, yang harusnya nggak ngeluarin anggaran ini itu lah, atau sekedar mengomentari wakil rakyat yang korupsi. Dari yang cuma sekedar nyinyir-nyinyir nggak jelas masalah kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah, sampai mulai bikin postingan di facebook yang isinya mengkritisi soal kerja pemerintah. Pada waktu itu gue rasa gue cuma siswi SMA biasa yang bodo amat soal pemerintah dan politik. Gue buta banget soal itu semua, dan gue nggak pernah peduli, karena apa? Karena gue rasa gue belum punya passion disitu, dan tujuan gue sekolah hanya lulus dan bisa masuk Universitas Negeri dengan usaha gue sendiri, jadi di luar itu gue nggak pernah mau ikut campur.

Bukan cuma itu aja, gue mulai ngerasi annoying banget dan risih sama temen-temen gue yang mulai ngomongin masalah politik. Menurut gue mereka ngomongin hal tersebut hanya supaya mereka terlihat seolah-olah melek berita, tapi omongan mereka nggak berbobot, alias cuma ikut-ikutan mengkritisi, alias 0 besar. Hal tersebut juga yang jadi salah satu pertimbangan gue buat milih jurusan IPA daripada jurusan IPS. Yak! Karena gue males sama urusan sosial, politik, dan apalah itu yang gue sendiri nggak pernah ngerti apa sebenernya faedahnya ngomongin hal itu. Mungkin juga itu jadi salah satu alesan gue ansos kali ya. Ya karena gue males bersosialisasi sama mereka yang bahkan gue nggak ngerti mereka lagi ngomongin soal apaan. Dan jadilah pada masa-masa SMA itu gue cuma seneng-seneng, dengan perlu digaris bawahi tetep tanggung jawab ya. Ya, tanggung jawab itu lah yang akhirnya membuat gue bisa ada di semester akhir anak kuliahan yang kuliah di Universitas Negeri.

Abis gue lulus dan mulai kuliah, semester pertama gue masih bodo amat, dan seperti kalian tau semua, semakin kalian kuliah, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang beragam. Yang kritis, yang nggak pernah peduli dengan sekitar, yang sukanya omong kosong, yang sukanya nggak jelas hidupnya, yang nggak punya tujuan hidup atau masa depan dan lain sebagainya. Berkaca dari pengalaman gue SMA, gue juga pada akhirnya memilih jurusan yang jauh dari urusan politik sosial dan apalah itu. Ya gue kuliah di jurusan yang membahas tentang teknologi sebagai konsentrasinya. semester 1 gue masih adem ayem aja, semester 2, semester 3 nggak ada yang berubah, semester 4 dan 5 gue masih fokus sama konsentrasi gue, dan semua hal yang berhubungan dengan tugas dan paper. 

Nah, ini, setelah gue semester 6 tepatnya setelah gue dapet mata kuliah KWN sama Pancasila, gue mau nggak mau mulai berhenti lari dari kenyataan. Gue mulai dipaksa buat melek tentang keadaan politik negara gue sendiri. Gue mulai harus jadi paling update soal berita politik kalo emang gue mau lulus mata kuliah ini. Dari sini lah pada akhirnya gue mulai paham, mulai ngerti apa yang sebenernya lagi terjadi sama negara gue. Dan secara nggak sadar, gue emang harus peduli dan mulai bersikap kritis. Karena apa? Gue sadar kalo gue adalah generasi selanjutnya yang akan membawa kemana arah negara ini di masa depan. Gue mulai mikir kalau seharusnya nggak begini, seharusnya nggak begitu. Meskipun gue membatasi diri gue buat berpendapat ketika temen-temen gue debat soal siapa yang lebih pantas memimpin Indonesia waktu pemilu kemaren. Ya gue cuma ngomong apa yang perlu gue utarain, tentang opini gue, selebihnya kalo mereka masih ngedebat sosok yang gue pilih, ya udahlah. Gue nggak mau buang-buang tenaga gue untuk hal tersebut.

Selanjutnya, ada banyak hal yang menurut gue bikin gue miris banget liat negara gue. Dipikiran gue yang selalu terngiang-ngiang adalah kok bisa negara gue jadi kayak gini? Ya apalagi? Kalo bukan masalah korupsi. Gue cuma nggak habis pikir aja kenapa mereka yang seharusnya dicontoh sebagai seorang wakil rakyat, malah seolah-olah seperti menghianati apa yang sudah dipercayakan kepada mereka. Kalo gue boleh ngomong, mereka uda kayak ngga punya otak. Apa otak mereka emang udah pindah di dengkul atau gimana gue nggak tau. Yang paling gue rasanya pengen mengutuk atau nyumpahain adalah ada salah satu wakil rakyat yang bikin iklan yang intinya menyuarakan untuk tidak korupsi, eh dia nya sendiri malah ketangkep gegara korupsi. Aneh apa bego sih?

Oh iya ini juga. Gue sebenernya kurang setuju tentang apa itu reshuffle. Sebagai contoh reshuffle menteri pendidikan. Seperti kita tau menteri itu dipilih arena kredibilitas di bidangnya dan dianggap mampu membawa perubahan. Nah tentu aja buat dipilih mereka harus ada program dong yang setidaknya harus mereka punya agar kepemimpinan mereka nanti bukan hanya omong kosong belaka. Nah tiap menteri punya program sendiri yang sebagian besar berbeda. Dari jaman kurikulum KBK, KTSP, sampai K13 yang sekarang aja malah udah K13 revisi. Dan setau gue sebuah program itu ngga bisa dilakuin setahun 2 tahun ya buat bisa bener-bener mengatasi masalah yang tujuannya buat memajukan pendidikan bangsa, tapi butuh bertahun-tahun biar bisa berhasil. Program 1 belom kelar dan belom bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, eh udah ganti lagi aja menterinya, yang otomatis program yang lama udah nggak dipake lagi karena si menteri baru menganggap programnya lebih mumpuni. Astaghfirullah, ini sebenernya lawak apa gimana sih ya? Ayolah jangan cepet-cepet ngambil kesimpulan. Kenapa sih nggak nyelesein program satu dulu? Ya ngga papa lah ganti menteri tapi ya jangan langsung dengan serta merta mengganti program yang sudah dijalankan dengan meyakini bahwa program yang baru akan lebih mumpuni. Gitu aja terus berlanjut nggak ada selesenya. Kesian juga yang ngejalani, dalam hal ini siswa, ya guru, bahkan orang tua. Bayangin aja dalam 1 sekolah tiap tingkatan kelas mereka ngerasain kurikulum yang beda. Seperti sekarang, anak-anak kelas 3 yang baru kemaren ini pengumuman kelulusan, mereka belajar dengan kurikulum KTSP. Sedangkan adek-adek kelas mereka make kurikulum K13, bahkan anak kelas 1 make kurikulum K13 dengan embel-embel revisi. Kacau!

Ya memang sih gue sebenernya ngga punya kredibilitas buat bisa ngubah itu semua dan cuma bisa nyinyir tanpa bisa memberikan aksi nyata atau solusi nyata. Hal ini sebenernya yang juga gue benci saat temen-temen gue yang dengan getol mengkritisi pemerintah dengan menggebu-gebu, demo dan segala macam, yang kadang kuliah aja mereka sering bolos, yang kalo ditanya masalah kebijakan publik, atau apa itu APBD bisanya cuma melongo karena nggak ngerti. Ya kayak yang tadi gue bilang, omongannya nggak ada bobotnya sama sekali. Tapi yaa gimana gue cuma nggak mau jadi rakyat yang diem aja ngeliat negaranya yang lagi sakit. Mungkin kontribusi gue saat ini emang cuma bisa nyinyir doang, tapi ya suatu saat gue harap ada generasi-generasi lain atau bahkan gue sendiri mungkin yang bisa ngerubah negara yang lagi sakit ini jadi sembuh. Dan sebenernya gue juga yakin, nggak semuanya yang sekarang duduk dibalik kursi perwakilan rakyat busuk. Pasti disana juga ada orang-orang 'bersih' yang sebenernya usaha mereka buat ngebawa negara ini lebih 'normal' sudah maksimal hanya saja terbentur oleh oknum-oknum yang merasa kepentingannya yang sesat itu sedang diusik. 

Sepertinya postingan ini sudah terlalu panjang, yang sebenernya masih banyak uneg-uneg yang menurut gue belum tersampaikan. Tapi ya sudahlah gue juga gamau dianggep tukang nyinyir tanpa kontribusi nyata sepertia apa yang gue suka bilangin ke temen-temen gue itu. Sekali lagi gue cuma nggak pengen dianggep sebagai rakyat pasif yang nggak peduli sama negaranya sendiri.

Minggu, 02 April 2017

Esensi Kejujuran

Awalnya bukan hal ini yang sengaja ingin ditulis. Tapi siang tadi ada banyak hal yang mengganjal, dan rasanya benar-benar ingin dikeluarkan. Dan berhubung yaaa, aku adalah seorang pelupa tingkatan mahir, jadi begitu mendapatkan sesuatu sepertinya memang harus segera dibekukan.
Setelah tadi chatting dengan seseorang yang entahlah awalnya membahas hal yang biasa saja, tiba-tiba merembet ke dalam hal yang mengobrak-abrik isi pikiran. Hal itu membuatku menjadi memikirkan hal, tentang sebuah kejujuran. Sebenarnya makna sesungguhnya tentang jujur itu seperti apa? Apa makna yang dipikirkan oleh setiap orang akan selalu sama? dan pada akhirnya aku memikirkan makna jujur itu sendiri dari sudut pandangku.

Sudut pandangku mungkin agak sedikit berbeda tentang apa itu jujur. Sadar nggak sih sebenernya susah sekali jujur, baik kepada orang lain, atau bahkan jujur pada diri sendiri, itu susah kan? Misalnya saja saat harus jujur pada diri sendiri tentang perasaan kita terhadap orang lain. Iya kan?
Mungkin latar belakang dari tidak jujur terhadap diri sendiri adalah tidak percaya diri, mungkin saja. Atau karena sebenarnya kita terlalu takut untuk mengetahui respon dari seseorang terhadap kejujuran kita. Bahkan hal yang lebih menakutkan adalah ketika ternyata respon itu sendiri tidak sesuai ekspetasi kita. Ya, aku rasa itu adalah alasan yang paling tepat ketika makna jujur itu dilihat dari sudut pandangku sendiri. Entah orang lain nantinya akan seperti apa memaknainya. Yang jelas ekspetasi itu lah yang sepertinya membunuh dan menciutkan nyali untuk jujur. Mungkin di luaran sana ada tipikal orang yang tidak perduli sedikitpun dengan respon dari sesorang ketika dia berusaha untuk jujur. Asalkan dia tidak menyajikan sebuah kebohongan, dia akan merasa lega dan merasa tidak berhutang.

Tapi tunggu dulu, apa hal seperti itu sudah cukup? Menurutku tidak. Karena sebenarnya ekspetasi itu lah yang mendorong kita untuk jujur. Ketika ternyata itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, rasa menyesal akan perlahan tumbuh, dan perasaan tidak ingin mengulanginya lagi pun akan semakin kuat. Tapi bukan berati hal ini akan memicu tumbuhnya generasi pembohong. Eh, tapi tunggu. Mungkin hal ini uga bisa menjadi tunas yang tumbuh dan berkembang hingga bisa melahirkan genarasi hoax. Yaa mungkin saja sih. Tapi kalau saja esensi jujur itu sendiri bisa dimaknai lebih, dan mungkin ketika seseorang itu bisa lebih menghargai sebuah kejujuran, mungkin yaaa tidak akan ada lagi sebuah ketakutan untuk jujur. Yaa mungkin saja. Hmm entahlah...

Rabu, 04 Januari 2017

Sebentar Saja

Ingin sembunyi. . .
Sebentar saja. . . .
Jangan dicari dulu. Ini butuh waktu, hanya sekejap saja. 
Jangan tanya apa, kenapa...
Karna jawabannya tidak tertera.
Lari dari bingar, menyudut dari ramai
Mengutuk sepi, hanya bersembunyi.
Kamu tau? Bahasa itu sudah tidak ada.
Tak perlu bahasa apapun
hanya untuk sekedar tau 
bosan.
bosanku dengan bingar
lelahku dengan penat
inginku lari saja
mengungkap sepi, berjalan beriirama
hingga menguap dimakan masa.


Jumat, 23 Desember 2016

Ruang Sendiri

Sadar atau nggak, terkadang orang-orang disekitar kita itu terlalu mengekspose kehidupan kita secara berlebihan. Mungkin secara nggak sadar itu kejadiannya, jadi seolah-olah kita menceritakan semua hal yang kita punya atau rasain ke orang-orang di sekitar kita. Kayak dihipnotis!
Dan menurutku itu bener-bener bahaya! Apalagi ketika kita bertemu dengan seseorang yang sok peduli. Okelah mungkin awalnya memang akan terlihat seperti peduli, tapi pada akhirnya yang kita dapet cuma kepura-puraan. Iya nggak sih?
Ini bukan semacam judging sih, tapi lebih ke bagaimana sebenernya kita butuh sesuatu yang bisa disebut ruang sendiri. Bagi aku ruang sendiri dimana kita bener-bener bisa deep thingking tentang sesuatu yang udah kita lakuin, yang at least bisa bikin kita mikir kalo itu salah dan jangan keulang lagi, dilevel terparah adalah ketika merasa menyesal dan bener-bener mikir buat jangan sampe deh jadi keledai buat yang kedua kalinya.
Ruang sendiri menurutku itu lebih kepada yang aku gamau orang ngeganggu, ini bisa dibilang semacam 'me time' yang gimana-gimana ya ga boleh ada orang lain yang nimbrung di dalemnya.
Bisa dalam segala macem bentuk sih, misalkan nih dateng ke perpustakaan ambil sudut yang paling sepi nah udah deh kita ngelakuin apa aja disitu. Bisa baca-baca mungkin, nulis, atau simple kayak ngeblog. Atau kadang 'me time' menurutku itu kita lakuin hobi kita diluar rutinitas yang bener-bener apa yang jadi kesukaan kita. Mau sebodoh amat dah sama orang-orang disekitar kita. Yang penting kita puas kita bisa ngeksplor apa yang jadi kesukaan kita.

Sebenernya potingan ini sedikit amburadul sih ya, ngomonginnya pada gak jelas arahnya. Tapi poin penting dari postingan ini adalah bahwa setiap orang itu pasti punya sisi dimana mereka bener-bener nggak pengen diganggu, pengen nenangin diri dan lain sebagainya. Jadi ya sebenernya juga, okelah kita boleh kepo. Tapi ketika disatu titik orang menolak buat cerita, ya udah semestinya kita ngehargain aja sih gitu. 

Sorry for random thoughts, biar blognya cepet full postingan juga sih *peace. Balada blog lama nggak bisa dibuka banget ini mah. 
Selamat menyelami ruang sendiri :) !