Pages

Tampilkan postingan dengan label Beropini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beropini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2019

Catatan Singkat Revolusi

Beberapa hari ini Indonesia sedang dilanda kondisi yang darurat, menurut saya. Seperti yang kita tau beberapa peristiwa sedang terjadi seperti, kebakaran hutan akibat pembukaan lahan baru di Riau dan sekitarnya yang mengakibatkan asap yang menyebar hampir di seluruh Riau dan beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera, yang sudah dalam level yang berbahaya menurut Indeks Standar Pencemar Udara. Kemudian masalah RUU KPK yang menuai berbagai polemik pengangkatan pimpinan tertinggi lembaga KPK, hingga pro dan kontra RUU PKS yang sedang ramai.

Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang ke-3 hal tersebut. Selain saya tidak begitu mengerti, di lain sisi saya juga tidak memiliki kapasitas untuk memberikan solusi, sehingga akan terkesan jago nyinyir. Jadi yang akan dibahas apa? Oke, concern pertama adalah mengenai revolusi industri. memang punya kapasitas untuk membahas itu? Umm, sedikit. Revolusi industri, ada berbagai aspek yang bisa dibahas ini, tapi fokus saya adalah tentang isu ketenaga kerjaan. Apa hubungannya? Jadi gini, dewasa ini dunia sudah memasuki revolusi industri 4.0, hal yang perlu dikhawatirkan dari fenomena ini adalah, kemajuan teknologi yang semakin mutakhir membuat beberapa pekerjaan yang sebelumnya di handle  oleh manusia kini mulai bergeser dan dikerjakan oleh mesin. Penggunaan mesin tentu saja lebih baik dibandingkan dengan tenaga manusia, kenapa? Karena dapat menekan biaya upah kerja buruh, dan meningkatkan jumlah produksi mengingatkan tenaga mesin tidak terbatas. Berdasarkan hal tersebut bukan hal yang tidak mungkin apabila beberapa 'job' akan musnah dikemudian hari.

Selanjutnya, dalam menghadapi dampak dari revolusi industri apa yang harus dilakukan? Tentu saja dengan mengasah skill sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masa depan. Nah, selanjutnya adalah kita bahas tenaga kerja. Kebetulan banget nih, saya sedang nerusin kuliah yang "concern" banget sama pendidikan vokasi, khususnya di pendidikan di bidang TI (Teknik Informatika). Emang ada jurusan itu? Ada. Biasanya disebut dengan program studi pendidikan kejuruan, atau di beberapa universitas disebut dengan pendidikan teknologi dan kejuruan. Nah, kalo di tempat saya kuliah, prodi tersebut masih dibagi lagi menjadi beberapa konsentrasi seperti teknik informatika, teknik mesin, teknik elektro, teknik sipil, dan lain sebagainya. Apa yang dipelajari? Selain tentang teori dan praktik keteknikan, kita juga belajar tentang manajemen pendidikannya, dan goals-nya adalah kontribusi untuk pendidikan vokasi di Indonesia. Bagaimana cara memajukan, mencapai tujuan dari didirikannya sekolah vokasi, dan lain sebagainya. 

Nah di jurusan saya ini, yang namanya revolusi industri 4.0 lagi anget-angetnya diomongin nih, hampir dar segala aspek, karena apa? Karena sekolah vokasi bertujuan untuk mencetak lulusan yang siap kerja. Seperti yang dibilang sama Jhon F. Thompson:
pendidikan kejuruan menggerakkan pasar kerja dan berkontribusi pada kekuatan ekonomi suatu negara
Namun ada faktanya, di Indonesia saat ini pendidikan menengah vokasi bukanlah pilihan favorit bagi siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama. Bisa dibilang sekolah vokasi adalah second opinion bagi mereka yang tidak diterima di SMA favorit, atau bisa dibilang pilihan terakhir. Ngga jarang juga sekolah vokasi dipilih karena masalah dikeluarkan dari SMA sebelumnya, atau karena tidak naik kelas. Ngga usah jauh-jauh sih, dulu waktu saya lulus SMP, pilihan dari orang tua cuma silahkan melanjutkan ke SMA, dengan alasan kalau di SMA pilihan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi lebih mudah dari segi pemilihan jurusan atau ketika menghadapi SBMPTN. Berbeda dengan saya, sepupu saya justru orang tuanya menganggap bahwa sekolah vokasi tidak bagus, isinya anak-anak yang nakal dan bla...bla...bla.. Persepsi ini lah juga yang membuat citra pendidikan vokasi tidak begitu bagus di kalangan masyarakat. Dampaknya bagaimana? Lulusan yang tidak bisa dikatakan super. Hal tersebut dilihat dari fakta masih sedikit siswa yang bekerja sesuai dengan bidang yang dipelajari semasa belajar di sekolah vokasi. Selain itu berdasarkan data yang tercantum pada buku Revitalisasi Pendidikan SMK tertulis angka kebekerjaan siswa SMK lebih rendah daripada siswa SMA, dimana hal tersebut justru terkesan mengkhianati tujuan utama dari didirikannya pendidikan vokasi.

Sabtu, 01 September 2018

Studi Lanjut?

Hari ini hari sabtu, di kos penghuninya banyak yang sedang keluar, otomatis internet lagi jos-jos nya, artinya me time saya di mulai. Kalau ada yang tanya kenapa saya nggak malam mingguan, bagi saya malam minggu itu sama aja dengan hari-hari biasanya, kalau saya pengen keluar dan nggak sedang sibuk saya pasti keluar, nggak nunggu malam mingguan dulu. Lagi pula malam minggu jalanan pasti macet, klakson berbunyi kencang, polusi dimana-mana karena volume kendaraan yang bertambah, penuh sesak, bising, dan tidak sehat, apalagi malang kota dingin yang mana semakin malam tingkat kelembaban semakin tinggi, dan saya adalah salah satu yang paling sensitif dengan udara dingin. Hmm... kalau sudah begini perasaan rindu rumah rasanya semakin menggebu-gebu. Sabtu-sabtu begini walaupun nggak ada jadwal liburan, sekedar makan di luar bersama keluarga, atau sekedar ngobrol bersama keluarga sambil nonton TV adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara bagi saya.

Hari ini rasa-rasanya banyak sekali pemikiran-pemikiran di kepala saya yang rasanya meledak-ledak ingin saya keluarkan. Pemikiran-pemikiran ini berasal dari beberapa artikel, beberapa thread di media sosial, dan juga beberapa pemikiran yang saya temukan ketika sedang melakukan blog walking. Jadi begini, akhir-akhir ini saya membaca sebuah tulisan yang membahas tentang keutamaan melanjutkan studi. Kebanyakan dari tulisan-tulisan tersebut menganggap bahwa melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi berkesan tidak perlu apabila kita merasa skill kita kurang, pengetahuan kita kurang, beralasan untuk memperdalam ilmu, atau hanya untuk mengisi waktu luang. Tulisan tersebut seakan mengatakan "Kamu yang bodoh, yang nggak punya prestasi akademis lebih, mending nggak usah lanjut, percuma. Buang-buang waktu, tenaga dan uang". Kok saya jadi merasa sedih ya? Lho?

Rabu, 08 November 2017

People Nowadays

Postingan ini mungkin sedikit nyambung sama postingan Manusia Purba (Re: Unopen-minded person). Postingan ini sebagai bentuk keresahan yang muncul lagi akibat ketidak nyamanan gue sama lingkungan yang sering dibilang kids jaman now. Jujur ungkapan kids jaman now ini nggak enak banget dikuping. Selain itu juga makna dibalik ungkapan itu, yang menurut gue agak sedikit negatif. Bagaimana tidak? Ungkapan itu seringkali dihubung-hubungkan dengan gaya pacaran anak muda jaman sekarang dimana bisa dibilang seringkali kelewat batas, atau anak-anak kecil yang sudah addicted banget sama gadget, atau juga kadang dihubungkan dengan lingkungan social media sekarang, dimana ajang kebebasan berpendapat digunakan sebagai kedok untuk nyinyirin manusia lain.

Oke, kids jaman now. Ada apa dengan kids jaman now? Pengguna instgram pasti udah sering banget kan nemuin postingan-postingan di eksplore atau akun-akun yang mengatas namakan akun kocak dengan tujuan memposting video atau gambar-gambar lucu? Ya, bukan sekali dua kali aja postingan yang diupload itu tentang anak kecil atau bisa dibilang ABG yang nyatain cinta, bawa bunga, terus si cowok berlutut gitu dihadapan si cewek, nah adegan selanjutnya adalah mereka berdua pelukan, terus audience di tempat kejadian nyorakin sambil nyanyi-nyanyi bahkan tepuk tangan. Parahnya jelas-jelas mereka masih pake seragam putih biru (re: anak SMP) Ya Allah, punya KTP aja belum, uda begini aja?

Minggu, 27 Agustus 2017

Manusia Purba (Re: Unopen minded person)

Ini adalah pemikiran, yang sebenarnya ada di dalam otak gue sejak bertahun-tahun yang lalu, dan pemikiran ini rasa-rasanya pengen banget gue utarakan langsung kepada setiap orang yang suka menghentikan langkah seorang pemimpi hanya dengan mulut pedas level 100 nya.

Ada yang pernah berpikir bahwa lingkungan 100% akan membentuk diri? Atau ada yang berpikir bahwa lingkungan adalah bagian dari diri? Cermin diri?

Semakin lo bergaul dengan lingkungan yang 'baik', maka sedikit banyak lo akan menjadi baik pula. Sebaliknya, semakin lo bergaul dengan lingkungan yang 'nggak baik', maka sedikit banyak lo akan terkena imbasnya pula. Mungkin teori ini akan dibantah oleh beberapa orang, tapi setidaknya ini adalah apa yang gue lihat dan gue rasakan selama ini.

Kenapa di atas gue sebut orang yang menghentikan langkah seorang pemimpi dengan mulut pedas level 100 nya? Ya, karena mulut adalah pedang, yang tajamnya melebihi pedang, yang kadang hanya dengan perkataan aja, seseorang meninggalkan mimpinya.

Ada banyak contoh yang mungkin akan kita temui berdasarkan apa yang gue omongin di atas. Nggak perlu jauh-jauh, disekitar kita aja. Misalnya nih ya, pernah ngerasa annoying ngga sama temen lo yang suka nyinyir? Bahkan nyinyirin soal yang jelas-jelas itu adalah hal positif. Jadi gini, ada beberapa orang yang suka nge-bully gara-gara lo suka nge-upgrade kemampuan bahasa Inggris. Nah upgrade nya ini dengan cara lo speaking english entah secara langsung, nggak sengaja nyeletuk, atau ketika berada di sosial media. Dan tiba-tiba temen lo bilang "Udahlah nggak usah sok KEMENGGRES" cuma gara-gara lo speak english fluently. Jadi kita dikata-katain sok pake bahasa inggris gitu. Ya Allah, ini benar-benar. Benar-benar banget. Emang salah ya kalo kita berusaha upgrade vocab, atau coversation kita? Ini gue yang kolot apa mereka aja yang mental cupu nggak pengen maju?

Rasa-rasanya gue pengen tuh nyeramahin mereka soal panjang lebar. Ya terserah sih mereka boleh nggak suka sama kita yang emang pengen kemampuan bahasa inggrisnya meningkat, tapi ya jangan bikin orang lain yang pengen upgrade, jadi ciut dong nyalinya gara-gara mulut pedes level 100 itu! Harusnya mereka sadar, semakin kesini tantangan globalisasi itu semakin tinggi. Nggak bisa dipungkiri, kalau kita nggak menguasai bahasa internasional, kita akan semakin menjadi bangsa yang tertinggal. Mana koar-koar kalian yang suka ngomong ingin memajukan Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Ayo dong jangan jadi pecundang yang jago berisik, tapi nol aksi. Gimana cara kalian memajukan bangsa kalo ngomong sama dunia luar aja kalian nggak bisa? Bukannya ini lucu?

Jadi bisa dong ya kurang-kuangin nyinyirin orang yang suka ngomong bahasa inggris, mereka bukannya sok mau bergaya.  Tapi ini semua emang sudah jadi kebutuhan. Karena apa? Para pelamar kerja aja sekarang sering diminta sertifikat TOEFL.  Ya mungkin ada yang nggak, tapi ini sebagian besar perusahaan udah menjadikan ini sebagai kemampuan dasar calon pelamar. Jadi jangan lo anggep sepele masalah-masalah kecil ini. Bisa bahasa inggris ini udah jadi salah satu hal penting.
Mari jadi bangsa hebat yang berpikiran maju. Jangan jadi pecundang yang jago berisik, tapi nol aksi.



Senin, 14 Agustus 2017

Generasi Optimis

Setiap orang pasti pernah berada pada suatu titik terbawah dalam hidupnya. Di titik itu orang pasti sudah sedikit putus asa dan menganggap sudah nggak bisa berbuat apa-apa. Nah, sebenernya disini gue mau ngomongin masalah-masalah itu semua, tentu aja dari sudut pandang gue dan apa yang udah pernah gue alami dan rasain ketika berada di titik tersebut. Termasuk gimana rasanya udah pasti dong, gimana lingkungan seolah menyerang kita, dan gimana reaksi orang-orang disekitar kita ngasi impact yang justru malah kita beranggapan bahwa itu semua cuma nambah-nambahin pikiran dan nggak ada faedahnya. Bahkan kita menganggap sedikit aja celotehan bisa berarti nusuk banget, dan bikin kitambah down. Tapi disini yang bakal gue bahas bukan masa-masa sulitnya, tapi poin pentingnya adalah bagaimana kalau ternyata semua itu bisa jadi kritik yang membangun, dan ngebuat kita bisa melaluinya. Kenapa akhirnya gue bisa ngomong kayak gini? Karna ada pepatah yang bilang,
"Semua akan usai pada waktunya"
"Kerja keras tidak akan menghianati hasil"

Gue udah ngebuktiin, kalau ternyata pepatah itu nggak salah. Gue bisa bilang itu 1000000% bener banget. Bahkan sekarang gue rada-rada nyesel karena dengan tololnya dulu gue sempet marah-marah balik sama orang-orang yang suka nanya-nanya masalah gue, entah itu nanya apakah masalah gue uda beres lah, ini lah itu lah, semuanya, yang kini gue sadar kalau itu adalah bukti kalau orang-orang itu peduli sama kita. Ooo bentar, kecuali buat mereka yang cuma sekedar kepo doang, dan setelah itu BYE! Atau mungkin masalah kita bisa jadi bahan gosip dia sama forum lain, oke untuk yang satu ini buang aja ke hutan, dasar badak!

Minggu, 07 Mei 2017

Ngomongin Hal Penting: Politik

Jadi tulisan kali ini secara mengejutkan gue bakalan ngomongin soal politik. Secara tidak langsung ini adalah postingan pertama gue tentang politik, dan kenapa bahasanya jadi tidak aku dan kamu lagi, karena gue rasa ditulisan ini gue akan sedikit menjadi tokoh antagonis seperti apa yang gue lakuin di keseharian gue. Dan mungkin akan agak sedikit nyeplos aka nyablak.

Dulu pas SMA, menurut gue adalah masa transisi dimana temen-temen gue udah mulai ngomongin soal politik. Tentang kebijakan presiden yang seharusnya nggak ngelakuin ini lah, yang harusnya nggak ngeluarin anggaran ini itu lah, atau sekedar mengomentari wakil rakyat yang korupsi. Dari yang cuma sekedar nyinyir-nyinyir nggak jelas masalah kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah, sampai mulai bikin postingan di facebook yang isinya mengkritisi soal kerja pemerintah. Pada waktu itu gue rasa gue cuma siswi SMA biasa yang bodo amat soal pemerintah dan politik. Gue buta banget soal itu semua, dan gue nggak pernah peduli, karena apa? Karena gue rasa gue belum punya passion disitu, dan tujuan gue sekolah hanya lulus dan bisa masuk Universitas Negeri dengan usaha gue sendiri, jadi di luar itu gue nggak pernah mau ikut campur.

Bukan cuma itu aja, gue mulai ngerasi annoying banget dan risih sama temen-temen gue yang mulai ngomongin masalah politik. Menurut gue mereka ngomongin hal tersebut hanya supaya mereka terlihat seolah-olah melek berita, tapi omongan mereka nggak berbobot, alias cuma ikut-ikutan mengkritisi, alias 0 besar. Hal tersebut juga yang jadi salah satu pertimbangan gue buat milih jurusan IPA daripada jurusan IPS. Yak! Karena gue males sama urusan sosial, politik, dan apalah itu yang gue sendiri nggak pernah ngerti apa sebenernya faedahnya ngomongin hal itu. Mungkin juga itu jadi salah satu alesan gue ansos kali ya. Ya karena gue males bersosialisasi sama mereka yang bahkan gue nggak ngerti mereka lagi ngomongin soal apaan. Dan jadilah pada masa-masa SMA itu gue cuma seneng-seneng, dengan perlu digaris bawahi tetep tanggung jawab ya. Ya, tanggung jawab itu lah yang akhirnya membuat gue bisa ada di semester akhir anak kuliahan yang kuliah di Universitas Negeri.

Abis gue lulus dan mulai kuliah, semester pertama gue masih bodo amat, dan seperti kalian tau semua, semakin kalian kuliah, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang beragam. Yang kritis, yang nggak pernah peduli dengan sekitar, yang sukanya omong kosong, yang sukanya nggak jelas hidupnya, yang nggak punya tujuan hidup atau masa depan dan lain sebagainya. Berkaca dari pengalaman gue SMA, gue juga pada akhirnya memilih jurusan yang jauh dari urusan politik sosial dan apalah itu. Ya gue kuliah di jurusan yang membahas tentang teknologi sebagai konsentrasinya. semester 1 gue masih adem ayem aja, semester 2, semester 3 nggak ada yang berubah, semester 4 dan 5 gue masih fokus sama konsentrasi gue, dan semua hal yang berhubungan dengan tugas dan paper. 

Nah, ini, setelah gue semester 6 tepatnya setelah gue dapet mata kuliah KWN sama Pancasila, gue mau nggak mau mulai berhenti lari dari kenyataan. Gue mulai dipaksa buat melek tentang keadaan politik negara gue sendiri. Gue mulai harus jadi paling update soal berita politik kalo emang gue mau lulus mata kuliah ini. Dari sini lah pada akhirnya gue mulai paham, mulai ngerti apa yang sebenernya lagi terjadi sama negara gue. Dan secara nggak sadar, gue emang harus peduli dan mulai bersikap kritis. Karena apa? Gue sadar kalo gue adalah generasi selanjutnya yang akan membawa kemana arah negara ini di masa depan. Gue mulai mikir kalau seharusnya nggak begini, seharusnya nggak begitu. Meskipun gue membatasi diri gue buat berpendapat ketika temen-temen gue debat soal siapa yang lebih pantas memimpin Indonesia waktu pemilu kemaren. Ya gue cuma ngomong apa yang perlu gue utarain, tentang opini gue, selebihnya kalo mereka masih ngedebat sosok yang gue pilih, ya udahlah. Gue nggak mau buang-buang tenaga gue untuk hal tersebut.

Selanjutnya, ada banyak hal yang menurut gue bikin gue miris banget liat negara gue. Dipikiran gue yang selalu terngiang-ngiang adalah kok bisa negara gue jadi kayak gini? Ya apalagi? Kalo bukan masalah korupsi. Gue cuma nggak habis pikir aja kenapa mereka yang seharusnya dicontoh sebagai seorang wakil rakyat, malah seolah-olah seperti menghianati apa yang sudah dipercayakan kepada mereka. Kalo gue boleh ngomong, mereka uda kayak ngga punya otak. Apa otak mereka emang udah pindah di dengkul atau gimana gue nggak tau. Yang paling gue rasanya pengen mengutuk atau nyumpahain adalah ada salah satu wakil rakyat yang bikin iklan yang intinya menyuarakan untuk tidak korupsi, eh dia nya sendiri malah ketangkep gegara korupsi. Aneh apa bego sih?

Oh iya ini juga. Gue sebenernya kurang setuju tentang apa itu reshuffle. Sebagai contoh reshuffle menteri pendidikan. Seperti kita tau menteri itu dipilih arena kredibilitas di bidangnya dan dianggap mampu membawa perubahan. Nah tentu aja buat dipilih mereka harus ada program dong yang setidaknya harus mereka punya agar kepemimpinan mereka nanti bukan hanya omong kosong belaka. Nah tiap menteri punya program sendiri yang sebagian besar berbeda. Dari jaman kurikulum KBK, KTSP, sampai K13 yang sekarang aja malah udah K13 revisi. Dan setau gue sebuah program itu ngga bisa dilakuin setahun 2 tahun ya buat bisa bener-bener mengatasi masalah yang tujuannya buat memajukan pendidikan bangsa, tapi butuh bertahun-tahun biar bisa berhasil. Program 1 belom kelar dan belom bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, eh udah ganti lagi aja menterinya, yang otomatis program yang lama udah nggak dipake lagi karena si menteri baru menganggap programnya lebih mumpuni. Astaghfirullah, ini sebenernya lawak apa gimana sih ya? Ayolah jangan cepet-cepet ngambil kesimpulan. Kenapa sih nggak nyelesein program satu dulu? Ya ngga papa lah ganti menteri tapi ya jangan langsung dengan serta merta mengganti program yang sudah dijalankan dengan meyakini bahwa program yang baru akan lebih mumpuni. Gitu aja terus berlanjut nggak ada selesenya. Kesian juga yang ngejalani, dalam hal ini siswa, ya guru, bahkan orang tua. Bayangin aja dalam 1 sekolah tiap tingkatan kelas mereka ngerasain kurikulum yang beda. Seperti sekarang, anak-anak kelas 3 yang baru kemaren ini pengumuman kelulusan, mereka belajar dengan kurikulum KTSP. Sedangkan adek-adek kelas mereka make kurikulum K13, bahkan anak kelas 1 make kurikulum K13 dengan embel-embel revisi. Kacau!

Ya memang sih gue sebenernya ngga punya kredibilitas buat bisa ngubah itu semua dan cuma bisa nyinyir tanpa bisa memberikan aksi nyata atau solusi nyata. Hal ini sebenernya yang juga gue benci saat temen-temen gue yang dengan getol mengkritisi pemerintah dengan menggebu-gebu, demo dan segala macam, yang kadang kuliah aja mereka sering bolos, yang kalo ditanya masalah kebijakan publik, atau apa itu APBD bisanya cuma melongo karena nggak ngerti. Ya kayak yang tadi gue bilang, omongannya nggak ada bobotnya sama sekali. Tapi yaa gimana gue cuma nggak mau jadi rakyat yang diem aja ngeliat negaranya yang lagi sakit. Mungkin kontribusi gue saat ini emang cuma bisa nyinyir doang, tapi ya suatu saat gue harap ada generasi-generasi lain atau bahkan gue sendiri mungkin yang bisa ngerubah negara yang lagi sakit ini jadi sembuh. Dan sebenernya gue juga yakin, nggak semuanya yang sekarang duduk dibalik kursi perwakilan rakyat busuk. Pasti disana juga ada orang-orang 'bersih' yang sebenernya usaha mereka buat ngebawa negara ini lebih 'normal' sudah maksimal hanya saja terbentur oleh oknum-oknum yang merasa kepentingannya yang sesat itu sedang diusik. 

Sepertinya postingan ini sudah terlalu panjang, yang sebenernya masih banyak uneg-uneg yang menurut gue belum tersampaikan. Tapi ya sudahlah gue juga gamau dianggep tukang nyinyir tanpa kontribusi nyata sepertia apa yang gue suka bilangin ke temen-temen gue itu. Sekali lagi gue cuma nggak pengen dianggep sebagai rakyat pasif yang nggak peduli sama negaranya sendiri.

Minggu, 02 April 2017

Esensi Kejujuran

Awalnya bukan hal ini yang sengaja ingin ditulis. Tapi siang tadi ada banyak hal yang mengganjal, dan rasanya benar-benar ingin dikeluarkan. Dan berhubung yaaa, aku adalah seorang pelupa tingkatan mahir, jadi begitu mendapatkan sesuatu sepertinya memang harus segera dibekukan.
Setelah tadi chatting dengan seseorang yang entahlah awalnya membahas hal yang biasa saja, tiba-tiba merembet ke dalam hal yang mengobrak-abrik isi pikiran. Hal itu membuatku menjadi memikirkan hal, tentang sebuah kejujuran. Sebenarnya makna sesungguhnya tentang jujur itu seperti apa? Apa makna yang dipikirkan oleh setiap orang akan selalu sama? dan pada akhirnya aku memikirkan makna jujur itu sendiri dari sudut pandangku.

Sudut pandangku mungkin agak sedikit berbeda tentang apa itu jujur. Sadar nggak sih sebenernya susah sekali jujur, baik kepada orang lain, atau bahkan jujur pada diri sendiri, itu susah kan? Misalnya saja saat harus jujur pada diri sendiri tentang perasaan kita terhadap orang lain. Iya kan?
Mungkin latar belakang dari tidak jujur terhadap diri sendiri adalah tidak percaya diri, mungkin saja. Atau karena sebenarnya kita terlalu takut untuk mengetahui respon dari seseorang terhadap kejujuran kita. Bahkan hal yang lebih menakutkan adalah ketika ternyata respon itu sendiri tidak sesuai ekspetasi kita. Ya, aku rasa itu adalah alasan yang paling tepat ketika makna jujur itu dilihat dari sudut pandangku sendiri. Entah orang lain nantinya akan seperti apa memaknainya. Yang jelas ekspetasi itu lah yang sepertinya membunuh dan menciutkan nyali untuk jujur. Mungkin di luaran sana ada tipikal orang yang tidak perduli sedikitpun dengan respon dari sesorang ketika dia berusaha untuk jujur. Asalkan dia tidak menyajikan sebuah kebohongan, dia akan merasa lega dan merasa tidak berhutang.

Tapi tunggu dulu, apa hal seperti itu sudah cukup? Menurutku tidak. Karena sebenarnya ekspetasi itu lah yang mendorong kita untuk jujur. Ketika ternyata itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, rasa menyesal akan perlahan tumbuh, dan perasaan tidak ingin mengulanginya lagi pun akan semakin kuat. Tapi bukan berati hal ini akan memicu tumbuhnya generasi pembohong. Eh, tapi tunggu. Mungkin hal ini uga bisa menjadi tunas yang tumbuh dan berkembang hingga bisa melahirkan genarasi hoax. Yaa mungkin saja sih. Tapi kalau saja esensi jujur itu sendiri bisa dimaknai lebih, dan mungkin ketika seseorang itu bisa lebih menghargai sebuah kejujuran, mungkin yaaa tidak akan ada lagi sebuah ketakutan untuk jujur. Yaa mungkin saja. Hmm entahlah...