Pages

Tampilkan postingan dengan label Self Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Talk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

Sebuah Pencapaian


Kali ini saya benar-benar merasa melewatkan banyak hal, terutama waktu saya ingin mengatakan bahwa saya bersyukur. Nggak terasa tiba-tiba sudah di bulan terakhir, yang artinya sudah saatnya tutup buku dan membuka lembar baru di tahun 2020 (nyatanya postingan ini telah dibuat di bulan desember, yaaa namun di terbitkan akhir januari). Padahal baru saja saya buka draft postingan blog, dan menemukan draft postingan yang sejatinya akan saya post di awal tahun 2019. Ternyata se-mager itu saya untuk melanjutkan sebuah tulisan yang sudah saya susun dengan rapi, padahal setelah saya baca ulang, yaaa ngga buruk-buruk amat tulisannya, layak baca lah begitu kiranya. Seperti yang sudah-sudah, saya akan berharap di tahun berikutnya saya akan lebih produktif untuk menulis. Karena menyimpan sesuatu tanpa punya wadah untuk menyampaikan rasanya kaya kentut yang ditahan bertahun-tahun, sakit! Sebagai pertimbangan juga, daripada nantinya hanya akan menjadi bom waktu dan habis masanya alias basi.

Kalau ditahun-tahun sebelumnya, tiap akhir tahun atau awal tahun saya akan menulis harapan-harapan saya dan merefleksi hal-hal buruk apa saja yang nggak seharusnya saya lakukan, kali ini saya ingin sesuatu yang berbeda. Pokoknya mau bersyukur banyak-banyak. Mau mengapresiasi diri sendiri banyak-banyak. Saya ingin berterima kasih dengan diri saya sendiri. Karena 2019 adalah tahun yang berat, penuh perjuangan, air mata dan segala macamnya, dan karena saya tahu, tahun depan akan lebih berat dari tahun kemarin, sudah saatnya saya apresiasi diri ini.
"Dear diri sendiri, terima kasih sudah berjuang untuk hal yang kadang tidak sesuai inginmu. Terima kasih sudah berusaha dengan begitu keras hingga mengabaikan apa-apa yang membuatmu jatuh.Terima kasih sudah bersusah payah bersabar akan banyak hal yang banyak menguras emosi . Terima kasih untuk selalu berusaha bertahan atas hal yang mungkin saja tidak mendapatkan tempat di hatimu. Dan terakhir, terima kasih untuk senantiasa berdiri walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan ambisimu. You doing a great job :)"
Tahun 2019 adalah tahun dimana banyak pencapaian yang bahkan di tahun sebelum-sebelumnya tidak pernah berpikir untuk bisa melakukannya. Mulai dari melanjutkan studi sampai kuliah sambil kerja. What a wonderful journey. Singkat cerita, sebenarnya saya mulai lanjut kuliah di tahun 2018, tapi kenapa saya bilang tahun 2019 adalah tahun yang berat? Karena di tahun tersebut saya diuji dengan berbagai macam tugas beserta cobaan-cobaanya. Mulai dari  temen sekelompok yang tidak bisa kooperatif, dosen yang tidak mau tahu asal tugas kelar, sampai cobaan terancam ngga  lulus 2 mata kuliah sekaligus. Tapi seperti kata quote "This too shall pass", ya saya berhasil melewatinya. Meskipun dibumbui drama dan air mata, yaaa yang penting udah lewat iya kan? Ngga cuma drama, dibarengin juga sakit  yang nggak sebentar, harus rela absen satu minggu dan dapet warning dari dokter, membuat saya menyerah dan hanpir ambil cuti karena ngga sanggup!

Tapi ngga taunya Allah tuh memang Maha baik banget, banget, banget. Pernah ngga sih, kita cuma berangan-angan, ngga serius, tapi tiba-tiba sama Allah diwujudtin, bahkan ngga selang beberapa hari! Kadang bikin suka malu, malu, malu banget. Segitunya Allah ke kamu Nim, tapi kamu disuruh sholat wajib tepat waktu aja sering banget ngulur-ngulur waktu. Cuma diingetin buat ngaji minimal dua kali sehari aja suka protes. Diingetin buat sholat sunnah aja suka kesel. How bad.

Banyak banget, kalo flashback ke belakang, tentang kemudahan-kemudahan yang Allah kasih, tapi malah kurang bersyukur. Menganggap hal ini tidak sesuai keinginan, padahal itu yang paling dibutuhin. Oleh sebab itu di tahun yang baru ini, daripada menyesali bahwa apa yang sudah terlewatkan di tahun sebelumnya mari bersyukur dan pencapaian apa saja yang sudah diraih, dan berharap tahun depan ada pencapaian-pencapaian lain yang lebih, yang sebelumnya terbesitpun tidak pernah. Aamiin.

Jadi apa saja pencapaian di tahun kemarin? Mulai dari.... ternyata saya bisa juga ya bekerja under pressure. Ternyata saya bisa kok nyelesein tugas kelompok untuk membuat jurnal ilmiah dan resume buku seorang diri! Kenapa saya ngerjain sendiri? Tentunya ada segelintir orang yang kurang mengerti apa itu artinya sebuah tanggung jawab, dan lebih lanjut saya tidak ingin membahasnya lagi. Sudah cukup menjadi sebuah pembelajaran bagi saya. Menyebalkan memang, ahsudahlah sudah lewat, Alhamdulillah.

Selanjutnya, pencapaian yang sebelumnya saya ngga pernah mikir kalau ternyata saya bisa ngelakuin itu juga. Kuliah sambil kerja! Pengalaman baru bagi saya, karena bekerja di sebuah instansi pemerintah dengan gaji yang sangat-sangat proper. Meskipun itu hanya 2 bulan, tapi sungguh sangat menyenangkan. Meskipun harus bolak-balik Malang-Tulungagung yang yaaa ngga bisa dibilang dekat juga. Lalu mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang alhamdulillah lagi-lagi bisa di handle meskipun banyak dramanya, banyak ngeluh ngga sanggupnya. But finally I did it! Bertemu orang-orang baru,belajar tentang gimana sih realita lingkungan kantor, belajar betapa pentingnya waktu, dan tentunya merasakan bolak-balik, hectic, lelahnya naik kereta bahkan seminggu pernah sampe 6 kali! Dulu yang selalu mengidam-idamkan rasanya kerja kantoran dengan mobilitas kereta seperti di Jepang, akhirnya merasakan juga. Padahal itu dulu cuma mimpi, sungguh. Memang Allah Maha Baik, bahkan mimpi  buat ngerasain itu ngga pernah saya memintanya dengan sungguh-sungguh, atau yang saya doain tiap harinya, tapi di kabul sama Yang Kuasa *mulai sedih.

Lalu pencapaian-pencapaian lainnya yang mungkin ngga penting untuk disebutkan, jadi berani megang kucing misalnya. Hahahaha. Jadi harapan saya kalau ditanya, banyak. Keinginan saya yang ingin saya doakan juga banyak. Tapi daripada sibuk menghitung apa yang saya inginkan, di tahun 2020 ini saya ingin fokus untuk selalu bersyukur apa yang sudah terjadi di hidup saya, bahkan hal terkecil sekalipun. Karena terkadang tanpa saya sadari harapan saya seringkali sudah diwujudkan olehNya bahkan sebelum saya bisa menyadari itu. Semoga saya selalu bisa menjadi seperti itu, bersyukur bahkan untuk mata yang terbuka lagi disetiap paginya, oksigen yang masih bisa saya hirup tanpa susah payah dan gratis, dan semua yang ada di tubuh ini yang masih berfungsi seperti saat pertama saya melihat dunia. Atau bahkan sakit yang dikasih ke saya, dan sembuh yang kemudian juga dikasih sama saya, saya mau bersyukur akan semua itu. Bahkan sudah dikasih ngerasain patah hati untuk kesekian kalinya! Jadi, apakah merasakan kembali patah hati sebuah pencapaian juga? :)

Senin, 25 September 2017

Soal Mimpi, Cita-cita, dan Harapan

Setiap orang pasti punya mimpi kan? Entah mimpi itu kecil atau besar, sepele atau mampu mengubah dunia. Banyak orang memandang mimpi dengan sudut pandang yang berbeda-beda, mari kita buat simple sudut pandang itu menjadi 3 bagian. Ada orang yang akan membangun mimpinya dengan sekuat tenaga, mengusahan dengan sangat keras, tidak akan membiarkan mimpi kecewa, jatuh, bangun tak pernah jadi masalah. Sebagian yang lain mungkin akan menyimpan mimpinya, ia berusaha, namun tidak pernah se-menggebu orang pertama, andaikan mimpi itu tidak pernah terwujud, ia tidak akan pernah kecewa. Ia menerimanya dan melanjutkan hidup. Sedikit lainnya mungkin akan mengubur mimpinya, berhenti memikirkannya, menyalahkan keterbatasan, kecewa mungkin iya, tapi pada akhirnya merelakan.

Itu hanyalah sebagian besar interpretasi soal mimpi, tapi di luar sana pasti ada begitu banyak keadaan, alasan, keterbatasan, tuntutan, yang menjadikan sebuah mimpi itu patut untuk diperjuangkan dan dikejar, disimpan dan dicoba, atau dikubur dan direlakan.

Mengejar mimpi sampai akhir hayat, samapai liang lahat, siapa yang tak ingin? Mengusahakan dengan sepenuh hati? Tapi menjadi seorang Mabuchi Kou sangat sulit (anime Ao Haru Ride). Kenapa? Ia mengejar mimpinya, dengan sangat keras, belajar dengan sangat tekun, berharap akan hidup dengan layak, dihujani kekayaan materi, dan berharap ibunya akan senang dengan hujan itu. Berkali-kalipun sang ibu berkata membahagiakannya adalah sesederhana makan dan nonton TV berdua, Kou kecil tidak pernah berpikir sesederhana itu. Sampai akhirnya sang ibu pergi untuk selama-lamanya, bahwa waktu yang semakin sedikit kemarin tak pernah ia gunakan untuk menemani sisa hidup ibunya. Penyesalan yang tertinggal.

Jumat, 23 Desember 2016

Ruang Sendiri

Sadar atau nggak, terkadang orang-orang disekitar kita itu terlalu mengekspose kehidupan kita secara berlebihan. Mungkin secara nggak sadar itu kejadiannya, jadi seolah-olah kita menceritakan semua hal yang kita punya atau rasain ke orang-orang di sekitar kita. Kayak dihipnotis!
Dan menurutku itu bener-bener bahaya! Apalagi ketika kita bertemu dengan seseorang yang sok peduli. Okelah mungkin awalnya memang akan terlihat seperti peduli, tapi pada akhirnya yang kita dapet cuma kepura-puraan. Iya nggak sih?
Ini bukan semacam judging sih, tapi lebih ke bagaimana sebenernya kita butuh sesuatu yang bisa disebut ruang sendiri. Bagi aku ruang sendiri dimana kita bener-bener bisa deep thingking tentang sesuatu yang udah kita lakuin, yang at least bisa bikin kita mikir kalo itu salah dan jangan keulang lagi, dilevel terparah adalah ketika merasa menyesal dan bener-bener mikir buat jangan sampe deh jadi keledai buat yang kedua kalinya.
Ruang sendiri menurutku itu lebih kepada yang aku gamau orang ngeganggu, ini bisa dibilang semacam 'me time' yang gimana-gimana ya ga boleh ada orang lain yang nimbrung di dalemnya.
Bisa dalam segala macem bentuk sih, misalkan nih dateng ke perpustakaan ambil sudut yang paling sepi nah udah deh kita ngelakuin apa aja disitu. Bisa baca-baca mungkin, nulis, atau simple kayak ngeblog. Atau kadang 'me time' menurutku itu kita lakuin hobi kita diluar rutinitas yang bener-bener apa yang jadi kesukaan kita. Mau sebodoh amat dah sama orang-orang disekitar kita. Yang penting kita puas kita bisa ngeksplor apa yang jadi kesukaan kita.

Sebenernya potingan ini sedikit amburadul sih ya, ngomonginnya pada gak jelas arahnya. Tapi poin penting dari postingan ini adalah bahwa setiap orang itu pasti punya sisi dimana mereka bener-bener nggak pengen diganggu, pengen nenangin diri dan lain sebagainya. Jadi ya sebenernya juga, okelah kita boleh kepo. Tapi ketika disatu titik orang menolak buat cerita, ya udah semestinya kita ngehargain aja sih gitu. 

Sorry for random thoughts, biar blognya cepet full postingan juga sih *peace. Balada blog lama nggak bisa dibuka banget ini mah. 
Selamat menyelami ruang sendiri :) !